Minggu, 18 Mei 2014

MERINGKAS BUKU PENGENALAN PERJANJIAN LAMA DENNIS GREEN


MERINGKAS BUKU PENGENALAN PERJANJIAN LAMA

BAB I
Latar Belakang
I.ILMU BUMI PERJANJIAN LAMA
A. Daerah Timur Kuno
Daerah kejadian-kejadian Perjanjian Lama pada garis besarnya termasuk lembah utara dan delta/beting sungai Nil, semenanjung Sinai, Negara-negara Palestina, Fenisia, Aram (Siria),  lembah-lembah singai Efrat. Tigris, dan Negara Persia (Iran). Sekarang seluruh daerah yang luas itu disebut “Sabit Subur” (Fertile Crescent).
B.Palestina
Tanah palestina atau Kanaan adalah daerah yang terletak di antara Lautan Tengah sebagai Batas dan Padang Gurun Arab sebagai batas Timur.  Batas Utara dan Selatan tidak ditetapkan dengan pasti, tetapi kira-kira sesuai dengan ucapan yang sering kali terdapat dalam Perjanjian lama, yaitu “dari Dan sampai Bersyeba’’. Nama “Palestina” berasal  dari nama “Filistin” sebab orang-orang itu menduduki dataran pantai.
1.Sifat Umum _ pada umumnya, tanah Palestina berupa daerah pegunungan. Di antara gunung-gunung itu,terdapat lembah-lembah yang cukup subur .
2.Bagian-bagian Umum _  Tanah Palestina dengan sendirinya terbagi  menjadi empat bidang  dengan arah Utara-Selatan.
(a)”Dataran pantai “, yang menyusur Lautan Tengah dari Gunung Karmel ke Selatan.
(b)”Pegunungan Tengah”, yang mulai dari Libanon dan Mengarah terus  ke padang gurun selatan, dengan Datar  Esdralon (Yizreel) di pertengahannya.
(c)”Lembah Yordan”, termasuk Laut Galilea dan Laut Mati.
(d)”Pegunungan Timur”, mulai dari G. Hermon sampai ke tanah Moab.
II.SEJARAH PERJANJIAN LAMA
A.Zaman dari Adam Sampai Abraham
Perlu dikatakan terlebih dahulu bahwa keterangan/ data-data tentang  penentuan waktu dalam zaman ini sangat kurang sekali. Mengenai hal ini perlu disadari bahwa Alkitab tidak dimaksudkan untuk menjadi suatu catatan kronologis (berturut-turut) yang teliti, mulai dari penciptaan dan seterusnya.Tujuan Alkitab ialah untuk mencatat peristiwa-peristiwa penting yang berhubungan dengan tindakan-tindakan Allah terhadap manusia _ misalnya penciptaan manusia yang pertama, dan selanjutnya  urusan Allah dengan manusia, pertama-tama secara umum/menyeluruh, kemudian melalui satu bangsa , yaitu Israel.
B.Zaman Patriakh-patriakh (kira-kira th.2000_1400 B.C.)                               
Waktu kejadian-kejadian yang diceritakan dalam Kej. 12-15 tentang para Patriakh tidak dapat ditentukan dengan pasti.  Oleh sebab itu, tidak ada kemungkinan  untuk mencocokkan waktu-waktu bersejarah dari bangsa lain dengan masa Patriakh-patriakh Israel. Untuk mencoba menentukan waktu yang lebih pasti untuk Abraham, cara yang biasanya dipakai ialah menghitung ke belakang mulai dari waktu Keluaran bani Israel dari Mesir.
C.Peristiwa Keluaran                
             Di sini pun juga perlu diakui adanya beberapa pendapat yang berlainan. Pendapat-pendapat itu rupanya dapat digolongkan demikian:
1.peristiwa Keluaran terjadi kira-kira th.1450 B.C.
2.Peristiwa Keluaran terjadi kira-kita th.1290 B.C.
D.Zaman Hakim-hakim (kira-kira th.1400_1050 B.C.)
            Masa Hakim-hakim ini memang merupakan zaman yang gelap dalam sejarah Israel. Sifat umum zaman tersebut dapat diringkaskan dengan suatu ucapan dari Hakim-hakim 17:6 “setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri”. Walaupun demikian, beberapa kali Tuhan membangkit seorang Hakim untuk memerintah, memimpin dan menolong rakyat Israel supaya dapat lepas dari tangan musuhnya. Walaupun ini boleh disebut zaman kemurtadan, namun masih terdapat beberapa orang yang beriman. Kisah yang indah itu mengenai Rut, Naomi dan Boas yang terjadi pada waktu ini mengingatkan kepada para pembaca bahwa pada setiap waktu ada orang yang percaya kepada Tuhan, walaupun di tengah-tengah masa kegelapan.
E.Zaman Kerajaan Bersatu  (kira-kira th.1050_931 B.C.)
           Zaman ini adalah zaman yang paling gemilang dan makmur dalam sejarah Israel. Abad-abad kegelapan dibawah pimpinan Hakim-hakim diganti dengan zaman  keemasan ini.  Dalam periode ini Israel mencapai derajat tinggi diantara bangsa-bangsa tetangganya.  Rakyatnya maju dalam ilmu pengetahuan, kesusasteraan, pembangunan dan segala hal yang penting untuk perkembangan yang baik.
         Sebelum itu, bangsa Israel merupakan suatu “teokrasi”; artinya, Israel  diperintah langsung oleh Tuhan  (bhs.Yunani “Theos”)  melalui seorang pemimpin yang dipilih /ditunjuk oleh Tuhan sendiri, yaitu raja Saul, Daud dan Salomo.

F.Zaman Kerajaan Terpisah   (kira-kira th.930_586 B.C.)
         Ketika Salomo meninggal, Rehabeam anaknya menjadi raja (kira-kira th. 930 B.C.). akan tetapi suku-suku di Israel bagian Utara, dipimpin oleh Efraim sebagai suku yang terbesar, memberontak dan mendirikan kerajaannya sendiri dengan Yerobeam sebagai rajanya. Perpecahan kerajaan itu disebabkan oleh :
1.Perasaan iri hati dari suku-suku Utara karena pusat penyembahan Tuhan pindah dari tempat-tempat tradisional, seperti Betel dan Dan di bagian Utara, ke Bait Suci yang baru didirikan di Yerusalem, di bagian Selatan.
2.Pajak yang sangat berat, yang dipungut oleh raja Salomo untuk membiayai program pembangunannya serta penghidupan istananya, kemudian diteruskan oleh Rehabeam walaupun rakyat Israel telah minta supaya pajak itu diringankan.
3.Orang-orang saleh di Israel merasa tersinggung karena raja Salomo membiarkan hal penyembahan berhala yang dibawa oleh isteri-isterinya.
4.Suku-suku Utara sebenarnya belum betul-betul dipersatukan dengan suku-suku Selatan. Bahwa mereka kelihatan seolah-olah sudah menjadi satu dibawah pimpinan Daud disebabkan hanya karena mereka terpaksa kerja-sama  untuk melawan musuh-musuh dari luar, bukan karena mereka mempunyai perasaan persatuan yang sungguh-sungguh.  Maka dengan adanya kepemimpinan Negara yang lemah dibawah raja Rehabeam, terjadinya suatu perpecahan sudah hampir pasti.
          Selama masa kerajaan terpisah, baik di Yehuda maupun di Israel, ada beberapa nabi yang dibangkit oleh Tuhan untuk menyampaikan Firman-Nya kepada raja dan rakyat kedua kerajaan tersebut. Diantaranya, beberapa nabi yang terkemuka adalah sebagaimana berikut:
Kerajaan Israel:                                                         
1.Elia
2.Elisa
3.Amos
4.Hosea
Kerajan Yehuda:
1.Yoel
2.Yesaya
3.Mikha
4.Nahum
5.Zefanya
6.Habakuk
7.Yeremia                               
G.Zaman Pembuangan di Babel dan pengembalian ke tanah Israel   (periode sesudah th.587 B.C.)
          Masa pembuangan ini dimaksudkan oleh Tuhan sebagai hukuman atas dosa dan kejahatan orang-orang Yehuda, supaya mereka mengoreksi diri  dan menaati perintah-perintah Tuhan .  Mereka tidak diperhambakan, malah mereka bebas untuk melakukan segala kebiasaan umum, misanya dalam bidang agama dan perdagangan. Banyak di antara mereka menjadi kaya dan ada lagi mereka yang memperoleh jabatan pemerintahan yang tinggi.
Nabi-nabi yang terkemuka di Babel
1.Yehezkiel
      Seorang imam dan nabi, dia memperkuat iman umat Yehuda dengan meyakinkan mereka bahwa Tuhan tidak meninggalkan mereka.
2.Daniel
      Dia memperoleh suatu  kedudukan yang sangat penting dalam pemerintah Babel. Dengan tulus hati,  dia bernubuat dan berusaha sekuat tenaganya untuk memimpin rakyat Yehuda kembali kepada Tuhan.
Hasil-hasil baik dari pembuangan rakyat Yahudi:
1.”monotheisme” ditegakkan. Karena pengalaman ini, maka umat Yahudi berpaling dari penyembahan berhala dan “polytheisme”. Sejak zaman itu orang Yehuda hanya menyembah dan berbakti kepada Allah yang Mahaesa.
2,Mereka menjadi amat bersemangat dalam bidang pendidikan. Oleh sebab itu rumah sembahyang sebagai pusat pendidikan merupakan suatu lembaga yang kokoh bagi rakyat Yahudi.
3.Mereka lebih menghormati Taurat Musa, dan pengetahuan tentang Hukum Allah mulai diketahui lagi oleh rakyat Yehuda.
4.Mereka makin lama makin berharap akan kedatangan  Mesias untuk melepaskan mereka dari penderitaan yang mereka alami dalam pembuangan di Babel.
Pengembalian ke tanah Israel
         Rombongan pertama yang kembali dari Babel ke tanah Yehuda di pimpin oleh seorang bernama Sesbazar. Mereka meletakkan pondasi untuk pembangunan Bait Suci yang baru. Rombongan kedua kembali ke tanah Yehuda, dipimpin oleh dua nabi Tuhan yang bernama Hagai dan Zakharia, seorang pembesar bernama Zerubabel dan imam Besar Yesua.
Nabi-nabi yang terkemuka:
1.Hagai dan zakharia
2.Maleakhi
III.KESUSASTERAAN PERJANJIAN LAMA
1.Prosa biasa, termasuk juga silsilah-silsilah.
2.Prosa gaya cerita, kebanyakkan catatan-catatan/riwayat-riwayat historis yang kadang-kadang juga mengandung kiasan.
3.Tulisan gaya puisi, yang dapat mengandung fakta dan khayalan, bayangan-bayangan tentang realitas-realitas rohani, dan juga keterangan bersejarah.
4.Catatan-catatan hukum, yang merumuskan undang-undang dan hukuman atas pelanggarannya.
5.perkataan-perkataan berupa nasihat dan himbauan.             
6.Syair dan Amsal.
7.Nubuat, termasuk penglihatan dan mimpi, perbuatan-perbuatan simbolis dan ramalan.
IV.PERKEMBANGAN AGAMA ISRAEL PADA ZAMAN PERJANJIAN LAMA
Pendahuluan
       Teori yang berdasarkan hipotesa evolusi itu mengatakan bahwa oleh karena monoteisme merupakan tingkatan agama yang tertinggi, maka perkembangan itu seharusnya terjadi pada zaman lebih kemudian dalam sejarah Israel, yaitu sebagai titik akhir dari suatu proses perkembangan yang dimulai dari politeisme.


Agama para Patriarkh
         Walaupun riwayat-riwayat yang tercatat dalam kitab Kejadian memberi  kesan bahwa nenek moyang orang Ibrani telah menganut monoteisme, sudah jelas dari Yosua 24:2 bahwa sedikit-banyak mereka menjalankan politeisme yang umum terdapat di Mesopotamia pada zaman itu.
Agama pada zaman Musa
         Peristiwa-peristiwa yang terjadi pada zaman Musa merupakan asal-usul monoteisme yang sejati. Peristiwa pentingnya adalah penyataan nama Tuhan “YHWH” Kepada Musa. Melalui nama tersebut yang berarti “yang hadir secara aktip”, Tuhan menyatakan diri-Nya kepada bangsa Israel yang masih baru itu sebagai Allah yang hidup, yang mempunyai hubungan moral dan rohaniah yang intim dengan mereka yang menaati perintah-perintah-Nya.
                                
Agama Pada Zaman Kerajaan
          Setelah zaman Hakim-hakim yang penuh dengan penyembahan berhala karena pengaruh bangsa-bangsa Kanaan, terjadilah suatu perubahan radikal terhadap kehidupan agamawi orang-orang Israel. Periode yang meliputi masa-masa pemerintahan raja Saul dan raja Daud dan bagian pertama masa pemerintahan Salomo diwarnai oleh suatu rasa kesetiaan baru kepada Tuhan,  disertai usaha yang sungguh-sungguh untuk mengurangi kebiasaan-kebiasaan penyembahan berhala.
 Para Nabi Perkembangan Yudaisme
          Kerajaan Selatan (Yehuda) juga terombang-ambing antara kelalaian dalam dalam keagamaan dan usaha-usaha untuk membaharui ibadah nasional serta menghapuskan penyembahan berhala. Munculnya nabi-nabi yang menuliskan kesaksiannya mengakibatkan hidupnya kembali iman kepercayaan yang berdasarkan perjanjian.
V.KANON PERJANJIAN LAMA
     Kitab Suci Yahudi berupa 24 kitab yang diatur dalam tiga bagian besar:
Hukum Taurat _ Kejadian
(“Torah”)             Keluaran
                              Imamat
                              Bilangan
                              Ulangan
Para Nabi        _Yosua
(“Nebhim”)       Hakim-hakim
                            Samuel
                            Raja-raja                                               Nabi-nabi  yang terdahulu
     
                            Yesaya                                                   Nabi-nabi yang terkemuka
                            Yeremia
                            Yehezkiel
                            Nabi-nabi kecil                                     (Hosea s/d Maleakhi)

Kitab-kitab/      _Mazmur                                  Pengkhotbah
Tulisan-tulisan    Amsal                                     Ester
(“Kethubhim”)   Ayub                                        Daniel
                             Kidung Agung                        Ezra (termasuk Nehemia)
                             Rut                                           Tawarikh
                             Ratapan
BAB II
Kitab-kitab Pentateuch
ISI PENTATEUCH SECARA RINGKAS
       Setiap kitab dari Pentateuch mempunyai keistimewaannya sendiri walaupun juga merupakan bagian dari sejarah yang mulai dari Penciptaan dan berakhir sampai dengan kematian Musa.
Kejadian_Penciptaan dan Kejatuhan Manusia, sejarah manusia dari Adam sampai dengan Yusuf .
Keluaran_Pelepasan dari Mesir.
Imamat_Penjelasan-penjelasan tentang ibadat.
Bilangan_Sejarah perjalanan dari Sinai ke dataran Moab.
Ulangan_Ikthisar Hukum Taurat.
Empat Tema Pokok
1.Hal Pemilihan
2.Hal Perjanjian
3.Hal Hukum
4.Hal Keluaran
BAB III
Kitab-kitab Sejarah
        Dalam Kitab Suci orang Yahudi, catatan-catatan sejarah Israel termuat dalam dua bagian: pada bagian Nabi-nabi (Nebhim), terdapat Yosua, Hakim-hakim, I & II Samuel, I & II Raja-raja;pada bagian Kitab-kitab (Kethubim), terdapat I & II Tawarikh, Ezra dan Nehemia, Rut dan Ester. Harus selalu diingat juga bahwa urutan kitab-kitab Perjanjian Lama tidak Kronologis (tidak berturut-turut menurut waktu penulisan).
BAB IV                                                  
Kitab-kitab Syair
PENGANTAR _ KESUSASTERAAN HIKMAT
        Dari lima kitab Syair, hanya terdapat satu (Kidung Agung) yang tidak mengandung jenis kesusasteraan yang disebut tulisan-tulisan “hikmat”. Demikian pula kesusasteraan hikmat itu tidak hanya terdapat dalam kitab Ayub, Mazmur, Amsal dan Pengkhotbah, tetapi terdapat juga dalam kitab-kitab Sejarah dan kitab-kitab Nabi-nabi.
BAB V
Pengantar Kitab-kitab Para Nabi
Nabi sebagai Ahli sejarah
       Perlu diingat bahwa menurut pembagian Perjanjian Lama oleh orang-orang Yahudi, ada empat kitab yang digolongkan dalam bagian Nabi-nabi Terdahulu yang sekarang ini digolongkan sebagai kitab-kitab sejarah yaitu Yosua, Hakim-hakim, kitab Samuel dan kitab Raja-raja.

Sifat Nubuat dalam Kebudayaan Yahudi
         Sebagai definisi umum, dapat dikatakan bahwa nubuat adalah suatu penyingkapan melalui manusia, yang memakai kata-kata lisan atau tertulis untuk menyampaikan penyataan tentang Allah dan menerangkan kehendak-Nya kepada manusia.
Jabatan Nabi : Dalam Perjanjian Lama, Istilah Ibrani “nabi” itu menunjukkan seseorang yang mempunyai hubungan istimewa dengan Allah sebagai “orang yang terpanggil” dan berhak untuk berbicara atau bertindak atas nama Allah.
BAB V
Nabi-nabi Besar
1.Yesaya
2.Yeremia
3.Ratapan
4.Yehezkiel
5.Daniel
BAB VII
Nabi-nabi Kecil
1.Hosea
2.Yoel
3.Amos
4.Obaja
5.Yunus
6.Nahum
7.Habakuk
8.Zefanya
9.Hagai
10.Zakharia
11. Maleakhi

Makalah Teologi Sistematika

BAB I

 PENDAHULUAN TEOLOGI SISTEMATIKA

I.                   Istilah Teologi
Istilah teologi berasal dari 2 kata Yunani, yaitu : theos artinya “Allah”, dan logos artinya “perkataan, uraian, pikiran, dan ilmu. Dengan demikian secara sempit teologi dapat diartikan sebagai ajaran tentang Tuhan. Namun dalam arti yang lebih luas teologi dapat berarti seluruh ajaraan Kristen.
II.                Istilah Sistematika
Istilah sistematika berasal dari kata sutematikos, artinya penempatan/penyusunan secara tepat.
III.             Pengertian Teologi sebagai ilmu
Teologi meskipun tidak memiliki fakta-fakta yang dapat diukur secara empiris(seperti ilmu-ilmu modern sekarang ini) tetap dapat disebut sebagai ilmu karena Teologi Kristen memenuhi unsur-unsur ilmu :
a.       Dapat dimengerti oleh pikiran manusia dengan cara teratur dan rasional
b.      Menuntut adanya penjelasan secara metodologis
c.       Menyajikan kebenaran
d.      Mempunyai nilai yang universal
e.       Memiliki objek yang diteliti[1]

[2]BAB II
Teologi Sistematika

I.                   Pengertian iman menurut Teologi Sistematika
1.      Iman : Manusia Menjawab Allah
Sekarang untuk mempelajari paham imam menurut Alkitab dan para bapa Gereja, kita bertolak dari pengertian iman menurut teologi dewasa ini yang endapan tertulisnya disahkan Magisterium Gereja percaya, artinya iman dengan mana orang-orang percaya dan tindakan itu diartikan Vatikan II pertama-tama sebagai dengan bebas menyerahkan diri kepada Allah. Khazanah wahyu yang artinya iman yang dipercayai. Perbedaharaan iman ini seluas dengan wahyu bila dipandang dari sudut materi. Paham iman sebagai tadi dilukiskan itulah yang kita pandang sebuah buah refleksi teologis yang akar biblis dan batang patristisnya mau dipelajari di bawah ini.
a.       Iman Kepercayaan Menurut Kitab Suci
            Bila dalam Alkitab sebagaimana telah kita amati, wahyu berarti bahwa Allah berbicara maka pembicaraan itu berlangsung bukan hanya dengan kata-kata para nabi dan juru bicara lainnya, yang bertugas menafsirkan sejarah, tetapi Allah berbicara pula melalui peristiwa-peristiwa itu sendiri yang ditafsirkan oleh orang-orang yang ditugaskan-Nya itu: seorang malaikat atau nabi dalam Perjanjian Pertama, atau seorang rasul dan terutama Anak-Nya sendiri, Yesus Sang Kristus, dalam Perjanjian Kedua. Para juru bicara Allah itu mengartikan dan memaklumkan makna peristiwa sejarah, dan dengan demikian sejarah itu disadari sebagai sejarah keselamatan oleh mereka yang beriman kepada-Nya.
b.      Iman Kepercayaan Menurut Para Bapa Gereja
Paham iman pada para bapa apostolik (tahun 90-165) masih sangat dekat dan mirip dengan paham iman dalam Kitab Suci. Di satu pihak, mereka menekankan sikap taat kepada hukum ilahi sehingga terdapat nuansa etis yang kuat. Hubungan dengan Kristus terungkap bukan hanya dalam pandangan bahwa Dialah pemberi hukum, tetapi juga dalam penegasan bahwa orang beriman bersatu dengan Kristus secara personal-pneumatis. Di lain pihak, iman terarah kepada kebahagiaan eskatologis: iman daan harapan bersatu padu. Orang mendapat pelajaran iman untuk memperoleh gnosis yang berdasarkan tradisi Santo Paulus diartikan sebagai menyampaikan rahasia eskatologis.
Menurut Augustinus (tahun 354-430) pun hati manusia merupakan organ pengenalan akan Allah. Akan tetapi, untuk dapat mengenal Allah, hati harus dimurnikan melalui askesis, iman kepercayaan, dan cinta kasih. Paham iman pada Augustinus ditentukan oleh hubungan dengan kewibawaan di satu pihak dan dengan ketetapan Allah ataupun Kristus di lain pihak. Ajakan Yesus “carilah, maka kamu akan mendapat” (Mat 7:7) bagi Augustinus berarti bahwa jiwa Kristiani diajak untuk maju dari iman kepercayaan kepada tatapan. Kedua komponen dari iman kepercayaan, yakni autoritas dan visio, Alkitab (serta Gereja) dan iluminasi, dihubungkan Augustinus dengan memakai distingsi antara “sabda lahir” dan “sabda batin” untuk menjelaskan bagaimana iluminasi terjadi pada waktu membaca Alkitab. Mula-mula Perjanjian Lama dan Baru, para nabi dan para rasul, harus dimengerti sebagai sabda lahir. Akan tetapi, dalam dan ditafsirkan maka hasilkanlah maknanya yang lebih dalam dan tersembunyi, yakni “sabda batin”, tetapi hanya bagi mereka yang mengerti dengan baik.
Kesimpulan :
sebagai orang beriman yang sekaligus anak zamannya, para bapa Gereja telah mengembangkan iman kepercayaan Kristiani mereka dalam kontak dengan budaya Hellenis. Dalam hal ini, filsafat Yunani telah mereka pergunakan ke dua arah.
Pertama, sebagai forum yang dihadapannya mereka ingin mempertanggungjawabkan imannya. Mereka yakin bahwa iman kepercayaan yang akan Yesus Kristus serta ajaran-Nya, dibandingkan dengan filsafat tak kalah kelaikannya bagi seorang makhluk berbudi. Iman Kristiani malah melebihi pengetahuan filosofis karena dengan menyerahkan diri kepada Yesus Kristus sebagai sabda Allah, orang mencapai pengetahuan yang sejati akan diri sendiri, akan dunia, dan akan Allah. Maka, dalam iman Kristiani digenapi dan disempurnakan apa yang dicari dan ditemukan secara tak sempurna dalam system-sistem filsafat.
Kedua, filsafat Yunani itu juga dipakai oleh para bapa Gereja sebagai sarana untuk merenungkan secara teoretis apa yang mereka hayati dalam pratik beriman. Filsafat menyediakan perbendaharaan istilah dan konsep yang, setelah disesuaikan seperlunya, dirasa cocok untuk mengungkapkan, mengatikulasikan, dan mengembangkan lebih lanjut penghayatan iman.
II.                Hubungan iman dengan  teologi sistematika
Melalui Iman Kita Mengerti Teologi merupakan penemuan, penyusunan dan penyajian mengenai kebenaran-kebenaran tentang Allah. Sama sekali tidak ada unsur yang merekomendasikan bahwa teologi itu bisa "direkayasa". Pada dasarnya ada tiga prinsip dalam teologi, yakni:
 (1). Teologi dapat dimengerti. Artinya teratur dan rasional, berlawanan dengan perasaan, perenungan dan imajinasi. Kemampuan berpikir analitis sangat diperlukan. Agar bisa mengerti, teologi harus dipelajari dan ditekuni serta hidup di dalamnya.
 (2). Teologi menuntut adanya penjelasan. Artinya melibatkan interpretasi dan sistematisasi. Ini ada kaitannya dengan pemaknaan suatu tema ajaran alkitabiah, istilah-istilah dan kosep-konsep teologi. Dalam prinsip ini, seseorang yang hendak belajar atau ingin memahami sesuatu dalam dan tentang teologi, ia harus menjadi seorang penafsir dan memiliki system berteologi tersendiri. Atau, paling tidak, mengadopsi sistem teologi tertentu yang diyakini benar.
(3). Beriman. Iman harus bersumber pada Alkitab. Antara beriman dan berteologi secara Kristen itu hampir tidak ada bedanya. Namun, kadang-kadang suatu prinsip teologi bisa dikorbankan untuk iman. Secara benar berteologi harus dengan pedoman yang benar, yaitu pada Alkitab. Syarat-syarat teologi secara sederhana :
(1). Percaya ada seseorang yang mampu berteologi dengan baik tetapi tanpa iman. Tetapi, seorang teolog yang percaya, akan mampu memberikan penjelasan wahyu Allah yang tidak sepenuhnya dimengerti dengan pikiran yang terbatas. - Di sinilah pernyataaan, Kita diam apabila Alkitab diam" sangat relevan. Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita.

(2).Berpikir identik dengan berfilsafat. Dalam berteologi, filsafat dianggap sebagai "Ibu" yang menggendong teologi itu. Tanpanya, teologi akan kekurangan. Pola berpikir seorang teolog, bukanlah mengabaikan rasio, tetapi, sebaliknya ia mampu mengatur - memanaga rasionya dengan teratur. Seorang teolog harus mampu berpikir secara teologis, yakni, berpikir secara eksegetik, berpikir dengan memahami suatu arti secara tepat. Misalnya, istilah "teologia Reformasi", secara tepat mengacu kepada suatu aliran teologi yang muncul pada era Reformasi abad ke-16-17. Bukan atau tidak ada kaitannya dengan reformasi politik di Indonesia, dsb. Dalam syarat inilah, mengapa istilah-istilah teologi itu tetap dipertahankan dan seminimal mungkin tidak dikontekstualkan. Seorang teolog, tidak hanya sebagai interpreter, tetapi juga mampu mempertahankan konsep-konsep teologianya secara utuh (logis dan berwibawa).

(3).Interdependen cara berpikir setiap orang memang berbeda-beda. Ada yang berpikir secara zig-zag, tetapi ada juga yang berpikir secara sistemik, teratur. Orang yang berpikir zig-zag tidak akan mampu mengintegrasikan pemikirannya secara konsistena. Sebaliknya, mereka yang berpikir sistematis, mampu melihat dan mengintegrasikan seluruh pemikirannya secara konsisten. Dunia teologi, adalah dunia berpikir dan analisis. Dalam berpikir dan menganalisa, seorang teolog tidak mungkin berdiri sendiri. Ia harus bergantung kepada pihak di luar diri dan pemikirannya. Dalam hal ini, intelek saja tidak cukup. Seorang teolog harus memiliki sumber pemikiran dan pemahaman yang berasal dari luar dirinya sediri. Seorang teolog harus interdependen. Seorang teolog harus memiliki pegangan utama, Alkitab -- wahyu Allah. Teolog harus memiliki panduan yang dapat dipercaya, yaitu para ahli dan karya mereka yang dapat dipertanggungjawabkan. Dan teolog harus tunduk pada pembimbingnya, yaitu Allah.

(4).Menyembah meskipun berteologi identik dengan latihan akademik, namun, idealnya seorang teolog adalah penyembah yang baik dan benar. Seorang teolog harus sadar betul kelayakan dari obyek penyembahannya dan sekaligus taat. Kata Yesus, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.
III.             Kepentingan Teologi Sistematika Bagi Mahasiswa
A.    Sebagai Penjelasan Tentang Kekristenan
Teologi sistematika penting sebagai studi peneletian dan penjelasan, demikian pula pengorganisasian secara sistenatis dari doktrin-doktrin yang merupakan dasar dan penting bagi Kekristenan. Sebagai hasil dari teologi sistematik, orang Kristen bisa mendapatkan pengertian yang jelas tentang kepercayaan dasar dari iman Kristen. Alkitab tidak ditulis dalam bentuk garis besar doctrinal, oleh karena itu, penting untukmensistematiskan bagian-bagian dari Alkitab untuk mengerti penekanan doctrinal dari keseluruh Alkitab.
B.     Sebagai Kapologetik Kekritenan
            Teologi sistematik memampukan orang Kristen untuk mempertshankan kepercayaan mereka secara rasional terhadap lawan-lawan dan orang yang antagonis pada iman mereka. Orang-orang percaya di era gereja mula-mula menggunakan kepercayaaan mereka yang telah disistematiskan untuk menanggapi lawan-lawan mereka dan orang tidak percaya. Sekarang hal itu akan lebih penting dengan munculnya humanism, komunisme, bidat-bidat, dan kepercayaan-kepercayaaan dari Timur. Doktrin iman Kristen yng telah disistematiskan harus diteliti, dijelaskan, dan dipersembahkan sebagai suatu pembelaaan dari Kekristenan di sepanjng sejarah.

C.     Sebagai Alat Untuk Kedewasaan Orang Kristen
            Teologi sistematik adalah esensi dari kebenaran orang Kristen, ini berarti bahwa teologi sistematik adalah kebenaran-kebenaran yang esensial bagi kedewasaan orang percaya (2Tim. 3:16-17). Tulisan-tulisan Paulus menjelaskan bahwa doktrin (teologi) adalah dasar dari kedewasaan orang Kristen. Hal itu terlihat dari bagaimana Paulus biasanya membangun suatu dasar doctrinal dalam surat-suratnya (misalnya Ef. 1-3), sebelum ia mendorong orang percaya untuk hidup dengan benar (mis. Ef. 4-6). Banyak orang Kristen telah setia menghadiri kebaktian gereja selama berabad-abad, namun masih memiliki pengertian yang sedikit tentang doktrin mayor dari iman orang Kristen, lebih dari itu, hal itu untuk melindungi orang percaya dari kesalahannya (lihat 1 Yoh. 4:1).[6]













IV.             Kesimpulan
       Teolgi Sistematika bagi petumbuhan iman mahasiswa teologi itu penting, dengan adanya sistematik dalam penyusunan ataupu doktrin-doktrin yang jelas dan benar. Oleh karena itu teologi sistematika berpengaruh bagi iman mahasiswa bertumbuh atau tidaknya. Iman dari mahasiswa akan kuat bila ia lebih mendalam tentang Alkitab dan Percaya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan yang Esa.
       Pada zaman sekarang banyak aliran-aliran dan ajarn yang sesat yang bisa merusak iman mahasiswa, karena mahasiswa mempunyai iman yang ingin tau dan terus berusaha memcari tahu tentang kenaran yang sesungguhnya. Iman yang percaya, pemikiran yang rasional dan bersumber Alkitab dapat dipastikan iman mahasiswa akan bertumbuh deng kuat dan teguh.


[1] [1] Pdt. Goni D Moody, Sth, Ma (Diktat Pembimbing Teologi Sistematika) Malang, hlm 1-2

[2] Dr. Dister Syukur Nico, Teologi Sistematika (Allah Penyelamatan) Kanisius, Yogyakarta, hlm 60-61
[3]  John Coventry, The Theology of Faith, Mercies Press, Cork, 1973, hlm. 23-24
[4]  Bdk. W. Voelker, Gregor von Nyssa als Mystiker, Wien, 1955, hlm. 181 dst.


[5] Dr. Dister Syukur Nico, OFM (Teologi Sistematika Allah Penyelamat) Kanisius, Yogyakarta, hlm 78
Escribano-Alberca, op. cit, hlm 106-125
[6] Enns Paul (The Moody handbook Of Theology) Literatur SAAT, Malang, hlm179-180