Minggu, 18 Mei 2014

Makalah Teologi Sistematika

BAB I

 PENDAHULUAN TEOLOGI SISTEMATIKA

I.                   Istilah Teologi
Istilah teologi berasal dari 2 kata Yunani, yaitu : theos artinya “Allah”, dan logos artinya “perkataan, uraian, pikiran, dan ilmu. Dengan demikian secara sempit teologi dapat diartikan sebagai ajaran tentang Tuhan. Namun dalam arti yang lebih luas teologi dapat berarti seluruh ajaraan Kristen.
II.                Istilah Sistematika
Istilah sistematika berasal dari kata sutematikos, artinya penempatan/penyusunan secara tepat.
III.             Pengertian Teologi sebagai ilmu
Teologi meskipun tidak memiliki fakta-fakta yang dapat diukur secara empiris(seperti ilmu-ilmu modern sekarang ini) tetap dapat disebut sebagai ilmu karena Teologi Kristen memenuhi unsur-unsur ilmu :
a.       Dapat dimengerti oleh pikiran manusia dengan cara teratur dan rasional
b.      Menuntut adanya penjelasan secara metodologis
c.       Menyajikan kebenaran
d.      Mempunyai nilai yang universal
e.       Memiliki objek yang diteliti[1]

[2]BAB II
Teologi Sistematika

I.                   Pengertian iman menurut Teologi Sistematika
1.      Iman : Manusia Menjawab Allah
Sekarang untuk mempelajari paham imam menurut Alkitab dan para bapa Gereja, kita bertolak dari pengertian iman menurut teologi dewasa ini yang endapan tertulisnya disahkan Magisterium Gereja percaya, artinya iman dengan mana orang-orang percaya dan tindakan itu diartikan Vatikan II pertama-tama sebagai dengan bebas menyerahkan diri kepada Allah. Khazanah wahyu yang artinya iman yang dipercayai. Perbedaharaan iman ini seluas dengan wahyu bila dipandang dari sudut materi. Paham iman sebagai tadi dilukiskan itulah yang kita pandang sebuah buah refleksi teologis yang akar biblis dan batang patristisnya mau dipelajari di bawah ini.
a.       Iman Kepercayaan Menurut Kitab Suci
            Bila dalam Alkitab sebagaimana telah kita amati, wahyu berarti bahwa Allah berbicara maka pembicaraan itu berlangsung bukan hanya dengan kata-kata para nabi dan juru bicara lainnya, yang bertugas menafsirkan sejarah, tetapi Allah berbicara pula melalui peristiwa-peristiwa itu sendiri yang ditafsirkan oleh orang-orang yang ditugaskan-Nya itu: seorang malaikat atau nabi dalam Perjanjian Pertama, atau seorang rasul dan terutama Anak-Nya sendiri, Yesus Sang Kristus, dalam Perjanjian Kedua. Para juru bicara Allah itu mengartikan dan memaklumkan makna peristiwa sejarah, dan dengan demikian sejarah itu disadari sebagai sejarah keselamatan oleh mereka yang beriman kepada-Nya.
b.      Iman Kepercayaan Menurut Para Bapa Gereja
Paham iman pada para bapa apostolik (tahun 90-165) masih sangat dekat dan mirip dengan paham iman dalam Kitab Suci. Di satu pihak, mereka menekankan sikap taat kepada hukum ilahi sehingga terdapat nuansa etis yang kuat. Hubungan dengan Kristus terungkap bukan hanya dalam pandangan bahwa Dialah pemberi hukum, tetapi juga dalam penegasan bahwa orang beriman bersatu dengan Kristus secara personal-pneumatis. Di lain pihak, iman terarah kepada kebahagiaan eskatologis: iman daan harapan bersatu padu. Orang mendapat pelajaran iman untuk memperoleh gnosis yang berdasarkan tradisi Santo Paulus diartikan sebagai menyampaikan rahasia eskatologis.
Menurut Augustinus (tahun 354-430) pun hati manusia merupakan organ pengenalan akan Allah. Akan tetapi, untuk dapat mengenal Allah, hati harus dimurnikan melalui askesis, iman kepercayaan, dan cinta kasih. Paham iman pada Augustinus ditentukan oleh hubungan dengan kewibawaan di satu pihak dan dengan ketetapan Allah ataupun Kristus di lain pihak. Ajakan Yesus “carilah, maka kamu akan mendapat” (Mat 7:7) bagi Augustinus berarti bahwa jiwa Kristiani diajak untuk maju dari iman kepercayaan kepada tatapan. Kedua komponen dari iman kepercayaan, yakni autoritas dan visio, Alkitab (serta Gereja) dan iluminasi, dihubungkan Augustinus dengan memakai distingsi antara “sabda lahir” dan “sabda batin” untuk menjelaskan bagaimana iluminasi terjadi pada waktu membaca Alkitab. Mula-mula Perjanjian Lama dan Baru, para nabi dan para rasul, harus dimengerti sebagai sabda lahir. Akan tetapi, dalam dan ditafsirkan maka hasilkanlah maknanya yang lebih dalam dan tersembunyi, yakni “sabda batin”, tetapi hanya bagi mereka yang mengerti dengan baik.
Kesimpulan :
sebagai orang beriman yang sekaligus anak zamannya, para bapa Gereja telah mengembangkan iman kepercayaan Kristiani mereka dalam kontak dengan budaya Hellenis. Dalam hal ini, filsafat Yunani telah mereka pergunakan ke dua arah.
Pertama, sebagai forum yang dihadapannya mereka ingin mempertanggungjawabkan imannya. Mereka yakin bahwa iman kepercayaan yang akan Yesus Kristus serta ajaran-Nya, dibandingkan dengan filsafat tak kalah kelaikannya bagi seorang makhluk berbudi. Iman Kristiani malah melebihi pengetahuan filosofis karena dengan menyerahkan diri kepada Yesus Kristus sebagai sabda Allah, orang mencapai pengetahuan yang sejati akan diri sendiri, akan dunia, dan akan Allah. Maka, dalam iman Kristiani digenapi dan disempurnakan apa yang dicari dan ditemukan secara tak sempurna dalam system-sistem filsafat.
Kedua, filsafat Yunani itu juga dipakai oleh para bapa Gereja sebagai sarana untuk merenungkan secara teoretis apa yang mereka hayati dalam pratik beriman. Filsafat menyediakan perbendaharaan istilah dan konsep yang, setelah disesuaikan seperlunya, dirasa cocok untuk mengungkapkan, mengatikulasikan, dan mengembangkan lebih lanjut penghayatan iman.
II.                Hubungan iman dengan  teologi sistematika
Melalui Iman Kita Mengerti Teologi merupakan penemuan, penyusunan dan penyajian mengenai kebenaran-kebenaran tentang Allah. Sama sekali tidak ada unsur yang merekomendasikan bahwa teologi itu bisa "direkayasa". Pada dasarnya ada tiga prinsip dalam teologi, yakni:
 (1). Teologi dapat dimengerti. Artinya teratur dan rasional, berlawanan dengan perasaan, perenungan dan imajinasi. Kemampuan berpikir analitis sangat diperlukan. Agar bisa mengerti, teologi harus dipelajari dan ditekuni serta hidup di dalamnya.
 (2). Teologi menuntut adanya penjelasan. Artinya melibatkan interpretasi dan sistematisasi. Ini ada kaitannya dengan pemaknaan suatu tema ajaran alkitabiah, istilah-istilah dan kosep-konsep teologi. Dalam prinsip ini, seseorang yang hendak belajar atau ingin memahami sesuatu dalam dan tentang teologi, ia harus menjadi seorang penafsir dan memiliki system berteologi tersendiri. Atau, paling tidak, mengadopsi sistem teologi tertentu yang diyakini benar.
(3). Beriman. Iman harus bersumber pada Alkitab. Antara beriman dan berteologi secara Kristen itu hampir tidak ada bedanya. Namun, kadang-kadang suatu prinsip teologi bisa dikorbankan untuk iman. Secara benar berteologi harus dengan pedoman yang benar, yaitu pada Alkitab. Syarat-syarat teologi secara sederhana :
(1). Percaya ada seseorang yang mampu berteologi dengan baik tetapi tanpa iman. Tetapi, seorang teolog yang percaya, akan mampu memberikan penjelasan wahyu Allah yang tidak sepenuhnya dimengerti dengan pikiran yang terbatas. - Di sinilah pernyataaan, Kita diam apabila Alkitab diam" sangat relevan. Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita.

(2).Berpikir identik dengan berfilsafat. Dalam berteologi, filsafat dianggap sebagai "Ibu" yang menggendong teologi itu. Tanpanya, teologi akan kekurangan. Pola berpikir seorang teolog, bukanlah mengabaikan rasio, tetapi, sebaliknya ia mampu mengatur - memanaga rasionya dengan teratur. Seorang teolog harus mampu berpikir secara teologis, yakni, berpikir secara eksegetik, berpikir dengan memahami suatu arti secara tepat. Misalnya, istilah "teologia Reformasi", secara tepat mengacu kepada suatu aliran teologi yang muncul pada era Reformasi abad ke-16-17. Bukan atau tidak ada kaitannya dengan reformasi politik di Indonesia, dsb. Dalam syarat inilah, mengapa istilah-istilah teologi itu tetap dipertahankan dan seminimal mungkin tidak dikontekstualkan. Seorang teolog, tidak hanya sebagai interpreter, tetapi juga mampu mempertahankan konsep-konsep teologianya secara utuh (logis dan berwibawa).

(3).Interdependen cara berpikir setiap orang memang berbeda-beda. Ada yang berpikir secara zig-zag, tetapi ada juga yang berpikir secara sistemik, teratur. Orang yang berpikir zig-zag tidak akan mampu mengintegrasikan pemikirannya secara konsistena. Sebaliknya, mereka yang berpikir sistematis, mampu melihat dan mengintegrasikan seluruh pemikirannya secara konsisten. Dunia teologi, adalah dunia berpikir dan analisis. Dalam berpikir dan menganalisa, seorang teolog tidak mungkin berdiri sendiri. Ia harus bergantung kepada pihak di luar diri dan pemikirannya. Dalam hal ini, intelek saja tidak cukup. Seorang teolog harus memiliki sumber pemikiran dan pemahaman yang berasal dari luar dirinya sediri. Seorang teolog harus interdependen. Seorang teolog harus memiliki pegangan utama, Alkitab -- wahyu Allah. Teolog harus memiliki panduan yang dapat dipercaya, yaitu para ahli dan karya mereka yang dapat dipertanggungjawabkan. Dan teolog harus tunduk pada pembimbingnya, yaitu Allah.

(4).Menyembah meskipun berteologi identik dengan latihan akademik, namun, idealnya seorang teolog adalah penyembah yang baik dan benar. Seorang teolog harus sadar betul kelayakan dari obyek penyembahannya dan sekaligus taat. Kata Yesus, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.
III.             Kepentingan Teologi Sistematika Bagi Mahasiswa
A.    Sebagai Penjelasan Tentang Kekristenan
Teologi sistematika penting sebagai studi peneletian dan penjelasan, demikian pula pengorganisasian secara sistenatis dari doktrin-doktrin yang merupakan dasar dan penting bagi Kekristenan. Sebagai hasil dari teologi sistematik, orang Kristen bisa mendapatkan pengertian yang jelas tentang kepercayaan dasar dari iman Kristen. Alkitab tidak ditulis dalam bentuk garis besar doctrinal, oleh karena itu, penting untukmensistematiskan bagian-bagian dari Alkitab untuk mengerti penekanan doctrinal dari keseluruh Alkitab.
B.     Sebagai Kapologetik Kekritenan
            Teologi sistematik memampukan orang Kristen untuk mempertshankan kepercayaan mereka secara rasional terhadap lawan-lawan dan orang yang antagonis pada iman mereka. Orang-orang percaya di era gereja mula-mula menggunakan kepercayaaan mereka yang telah disistematiskan untuk menanggapi lawan-lawan mereka dan orang tidak percaya. Sekarang hal itu akan lebih penting dengan munculnya humanism, komunisme, bidat-bidat, dan kepercayaan-kepercayaaan dari Timur. Doktrin iman Kristen yng telah disistematiskan harus diteliti, dijelaskan, dan dipersembahkan sebagai suatu pembelaaan dari Kekristenan di sepanjng sejarah.

C.     Sebagai Alat Untuk Kedewasaan Orang Kristen
            Teologi sistematik adalah esensi dari kebenaran orang Kristen, ini berarti bahwa teologi sistematik adalah kebenaran-kebenaran yang esensial bagi kedewasaan orang percaya (2Tim. 3:16-17). Tulisan-tulisan Paulus menjelaskan bahwa doktrin (teologi) adalah dasar dari kedewasaan orang Kristen. Hal itu terlihat dari bagaimana Paulus biasanya membangun suatu dasar doctrinal dalam surat-suratnya (misalnya Ef. 1-3), sebelum ia mendorong orang percaya untuk hidup dengan benar (mis. Ef. 4-6). Banyak orang Kristen telah setia menghadiri kebaktian gereja selama berabad-abad, namun masih memiliki pengertian yang sedikit tentang doktrin mayor dari iman orang Kristen, lebih dari itu, hal itu untuk melindungi orang percaya dari kesalahannya (lihat 1 Yoh. 4:1).[6]













IV.             Kesimpulan
       Teolgi Sistematika bagi petumbuhan iman mahasiswa teologi itu penting, dengan adanya sistematik dalam penyusunan ataupu doktrin-doktrin yang jelas dan benar. Oleh karena itu teologi sistematika berpengaruh bagi iman mahasiswa bertumbuh atau tidaknya. Iman dari mahasiswa akan kuat bila ia lebih mendalam tentang Alkitab dan Percaya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan yang Esa.
       Pada zaman sekarang banyak aliran-aliran dan ajarn yang sesat yang bisa merusak iman mahasiswa, karena mahasiswa mempunyai iman yang ingin tau dan terus berusaha memcari tahu tentang kenaran yang sesungguhnya. Iman yang percaya, pemikiran yang rasional dan bersumber Alkitab dapat dipastikan iman mahasiswa akan bertumbuh deng kuat dan teguh.


[1] [1] Pdt. Goni D Moody, Sth, Ma (Diktat Pembimbing Teologi Sistematika) Malang, hlm 1-2

[2] Dr. Dister Syukur Nico, Teologi Sistematika (Allah Penyelamatan) Kanisius, Yogyakarta, hlm 60-61
[3]  John Coventry, The Theology of Faith, Mercies Press, Cork, 1973, hlm. 23-24
[4]  Bdk. W. Voelker, Gregor von Nyssa als Mystiker, Wien, 1955, hlm. 181 dst.


[5] Dr. Dister Syukur Nico, OFM (Teologi Sistematika Allah Penyelamat) Kanisius, Yogyakarta, hlm 78
Escribano-Alberca, op. cit, hlm 106-125
[6] Enns Paul (The Moody handbook Of Theology) Literatur SAAT, Malang, hlm179-180

Tidak ada komentar:

Posting Komentar